Minggu, 29 Mei 2022

Saidina Ali bin Abi Thalib RA merumuskan cara memperlakukan anak

 



1. Kelompok pertama 7 tahun (umur 0-7 tahun), melayan anak sebagai raja.

2. Kelompok kedua 7 tahun (umur 8-14 tahun), melayan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok ketiga 7 tahun (umur 15-21 tahun), melayan anak sebagai sahabat.
.
► ANAK SEBAGAI RAJA (umur 0-7 tahun)
Melayani anak di bawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan keikhlasan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Banyak hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah memiliki efek positif terhadap perkembangan perilaku si kecil, misalnya:-
Jika kita segera merespon dan mendekatinya ketika ia menelepon kita bahkan ketika kita sibuk, maka ia akan segera merespon dan terus menghampiri kita ketika kita meneleponnya.
Pada saat kita tidak lelah menggosok punggungnya hingga ia tertidur, dan tidak mustahil ketika ia memijat atau menggosok punggungnya ketika kita lelah atau sakit.
Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat dia telah melakukan kesalahan besar dalam bentuk apapun, kita bisa melihat kedepannya dia juga akan bersabar ketika saudara atau temannya melakukan kesalahan kepadanya.
Oleh karena itu ketika kita selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan anak-anak dibawah usia tujuh tahun, Insya Allah, ia akan tumbuh menjadi orang yang menyenangkan, penyayang, dan bertanggung jawab karena jika kita mencintai dan memperlakukan m ereka sebagai raja, maka ia akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratu.
► ANAK SEBAGAI TAWANAN (umur 8-14 tahun)
Posisi seorang POW dalam Islam sangat disegani. Dia akan berhak atas tingkat tertentu, tetapi juga tunduk pada berbagai batasan dan tanggung jawab. Usia 8-14 tahun adalah usia yang tepat bagi anak-anak untuk diberikan hak, tanggung jawab, dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai mengajarkan anak-anak untuk melaksanakan shalat wajib di usia 7 tahun dan memungkinkan kita memukuli anak (atau menghukum dengan hukuman yang setimpal) ketika anak berusia 10 tahun jika anak masih meninggalkan salat. Oleh karena itu, usia 8-14 tahun merupakan waktu yang tepat dan tepat bagi anak-anak untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang perkara-perkara yang terkait dengan hukum hakim agama, baik wajib maupun dilarang, seperti :-
1. Menunaikan solat wajib lima kali sehari.
2. Memakai pakaian yang bersih, kemas dan menutup aurat.
3. Menjaga pergaulan dengan berlawanan jenis.
4. Membaca Al-Quran.
5. Membantu kerja-kerja rumah yang mudah dilakukan praktikal dengan usia anak.
6. Menerapkan disiplin dalam aktivitas sehari-hari. Apresiasi dan Hukuman yang Setimpal (hadiah/pahala/pujian dan hukuman/pahala) diberikan pada usia kedua 7 tahun ini karena anak-anak mampu memahami arti tanggung jawab dan suatu tindakan.
Namun, perlakuan terhadap setiap anak harus berbeda-beda karena setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda (karena setiap anak memiliki keunikannya masing-masing).
► ANAK SEBAGAI SAHABAT (umur 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum bagi anak-anak yang memasuki masa pubertas. Sebagai orang tua seharusnya kita menempatkan diri sebagai teman dan memberikan contoh yang baik seperti yang diajarkan oleh Saidina Ali bin Abi Thalib.
Ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan dia, menjelaskan bahwa dia adalah remaja dewasa.
Perlu diberi tahu tentang perubahan fisik. Selain itu, ia juga akan mengalami perubahan mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga mungkin ada banyak masalah yang harus dihadapi. Yang terpenting bagi kita para orang tua agar kita ciptakan kesadaran pada anak-anak kita bahwa usia setelah baligh ia sudah memiliki buku amalan sendiri yang akan ia hadapi sendiri dan menjawab dijawab oleh Allah SWT kelak.
Anak-anak selepas akil baligh seharusnya diberi lebih ruang supaya mereka tidak merasa terkekang namun masih tetap di dalam pengawasan ibu bapa.
Pengawasan harus dilakukan tanpa paksaan dan tentu saja disertakan dengan doa untuk kesejahteraan dan keselamatan mereka. Maka anak akan merasa dihargai, dihormati, dicintai, dan sangat penting dalam keluarga. Selain itu, mereka akan merasa percaya diri dan memiliki kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung berbuat baik dan menjauhi perilaku buruk.
Memberikan kepercayaan kepada anak-anak dengan tanggung jawab yang lebih berat. Di usia 15--21 tahun sangat penting bagi kita para orang tua untuk memberikan tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar agar masa depan anak-anak kita bisa lincah, mandiri, bertanggung jawab dan bisa diandalkan.
Contoh tanggung jawab yang harus diberikan pada usia ini adalah seperti memintanya untuk membimbing adik-adiknya, memberikan tugas yang biasa dilakukan orang dewasa atau menyiapkan jadwal aktivitas dan mengatur keuangannya sendiri.
Semoga Allah SWT memberikan kita anak-anak yang soleh dan berbakti kepada ibu bapa dan masyarakat.
.
"Ya Rabbku, beri­lah kepadaku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya engkau adalah Maha Mendengar Doa." (Al-Quran, Ali Imran: 38).

Selasa, 24 Mei 2022

PUTRA ABU JAHAL JADI MUJAHID HANDAL ??

Siapapun kamu yang pernah belajar Sirah Nabawiyah pasti tidak asing dengan nama Abu Jahal.

Dia, adalah "Fir'aun umat ini", dalang kejahatan kaum musyrikin dan panglima musuh di Perang Badar.
Tapi, tahukah kamu bahwa putranya adalah seorang mujahid hebat?
Namanya adalah Ikrimah bin Abu Jahal,
Ketika Rasulullah ﷺ bersama 10 ribu sahabatnya membebaskan Kota Makkah tahun 8 Hijriah, nama Ikrimah menjadi "most wanted" karena kejahatannya begitu besar, sehingga ia masuk ke daftar orang-orang yang boleh dibunuh.
Mengetahui hal itu, Ikrimah kabur ke Yaman dan ia memutuskan untuk pergi jauh menaiki kapal.
Namun qadarullah, di tengah samudera, kapal yang ia naiki diserbu badai ganas.
Nahkoda berkata, "tak ada yang bisa kita lakukan lagi.
Berhala-berhala kalian tak mampu memberi manfaat sedikitpun!"
Di saat-saat mencekam itu, di ujung detik menuju kematian Ikrimah berkata pada dirinya sendiri, "Jika Allah ﷻ menyelamatkan aku dari (badai) ini, sungguh aku akan kembali pada Muhammad, dan akan ku letakkan tanganku pd tangan beliau (membaiat Rasul)"
(Sumber: Tafsir Al Baghawi Surat Luqman ayat 32)
Dgn izin Allah, badai reda. Ikrimah selamat dan berusaha menepati janjinya sendiri.
Dan subhanallah, usaha Ikrimah ini ternyata makin sempurna dengan masuk Islamnya istri beliau, Ummu Hakim.
Sang istri menjadi penjamin Ikrimah agar selamat sampai di hadapan Rasulullah ﷺ.
Sesampainya di hadapan Nabi, Ikrimah mengucapkan kalimat syahadatain.
Di hari bersejarah itu, Ikrimah berikrar tegas pada dirinya.
Ia mengucapkan sebuah kalimat indah yg diucapkannya pada Baginda Rasulullah ﷺ :
"Wahai Rasulullah, Demi Allah aku tidak akan meninggalkan tempatku dimana aku menghalangi manusia dari jalan Allah sampai aku menggantinya dgn perjuangan di jalan-Nya.
Dan aku tdk akan melupakan semua biaya yang kuhabiskan utk menghalangi manusia dari jalan Allah sampai aku mengeluarkan biaya yg besar pula untuk berjuang di jalan Allah."
(HR Al Hakim 3/270)
Menjadi Pejuang Hebat yg Melawan Kemurtadan
Khalifah Abu Bakar menugaskan Ikrimah memerangi kaum murtad di Oman dan Yaman, kemudian beliau berangkat menuju Syam utk menghadapi Kekaisaran Romawi Timur
Beliau menjadi tentara penunggang kuda hebat di Perang Yarmuk, di situlah beliau syahid.
"Biarkan Aku Membersihkan Masa Laluku!"
Detik-detik menjelang syahidnya Ikrimah adalah sebuah momen yang penting kita tadabburi.
Di hari terik melawan Romawi itu, Ikrimah sangat bersemangat dan ia memutuskan untuk rela mati demi bisa merobek barisan musuh.
Khalid bin Walid berkata pada Ikrimah, "Jangan lakukan itu wahai Ikrimah! Kematianmu akan jadi duka bagi Kaum Muslimin!"
Apa jawaban Ikrimah?
"Tak usah kau menahanku wahai Khalid! Sungguh kau telah mendahuluiku dalam membela Rasulullah ﷺ, sedangkan aku dan ayahku menjadi manusia paling keras permusuhannya pada beliau. Biarkan aku membersihkan masa laluku!"
(Al Kamil fi At Tarikh, Ibnul Atsir)

TURUT SENANG DAN BANGGA

 Alhamdulillah, turut senang dan bangga atas lahirnya ulama muda asal Indonesia ini. Kemarin-kemarin, beritanya berseliweran di beranda hampir setiap hari.

Pria yang memiliki nama lengkap Muhammad Saihul Basyir ini, sudah berhasil menghafal 1.682 hadits jilid 3 kitab jam'u shahihain di Masjid Nabawi dalam waktu 7 hari dari target 14 hari. Allahu Akbar!
Tak hanya itu, pemuda yang hafal 30 Juz Al-Quran sejak kelas 6 SD itu, sudah menguasai banyak kitab, salah satunya kitab Bulughul Maram. Dan, pernah menjuarai MTQ Nasional cabang 30 Juz dan tafsir Bahasa Arab.
Bahkan, ulama muda yang merupakan putra dari Bapak Tamim (Mutammimul Ula), tokoh dan mantan anggota DPR RI ini, sempat juga di Madinah untuk menguasai Shohih Bukhari Muslim.
Kabarnya, sekarang sudah ada di Indonesia dan mulai aktif berdakwah mengisi ceramah -ceramah.
Ada satu hal yang membuat Saya tertarik untuk mengulas beliau disini, yaitu tentang daya serap otaknya yang DAHSYAT. Bayangkan saja, kabarnya, dalam sebulan bisa menghafal hingga 1.000 hadits. Maasyaa Allah tabarakallah. Allahu Akbar!
Kemarin, sempat ada tulisan dari beliau yang merespon tentang ramai berita tentang dirinya. Lalu berkisah pengalaman yang cukup menginspirasi, yaitu tentang minimnya persiapan ketika mau ada ujian di kampus.
Pada saat itu, teman-temannya sibuk belajar dan mempersiapkan untuk ujian. Namun, beliau lebih memilih fokus dan sibuk Talaqqy bersama Syaikh. Hal itu, membuat teman-temannya bertanya, kenapa nggak pernah ikut belajar bareng. Begitu ujarnya.
Hingga akhirnya, H-1 sebelum ujian, beliau berziarah ke raudhah, lalu shalat dan berdoa disana memohon kemudahan. Kemudian dilanjut belajar ala kadarnya dan saat hari H ikut ujian.
Setelah ujian selesai, ia kembali sibuk dan aktif Talaqqy bersama Syaikh di Madinah seperti biasa.
Singkat cerita, ada pengumuman kelulusan dari kampus yang menginformasikan bahwa hanya 1 orang yang lulus dari sekian banyak mahasiswa yang ikut ujian. Siapa sangka, pria yang memiliki nama sapaan Basyir lah yang dinyatakan lulus.
Maasyaa Allah tabarakallah. Allahu Akbar!
Bagaimana tidak, secara persiapan beliau lebih minim dibanding teman-temannya. Namun begitulah perhatian dan kasih sayang Allah terhadap ahlul Qur'an, senantiasa diistimewakan oleh-Nya.
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi ‘ahli’ Allâh”. Para Sahabat Radhiyallahu anhum bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah mereka?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah ahli al-Qur’an, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan dicintai) Allâh dan diistimewakan di sisi-Nya. (Riwayat Ahmad 3/127)
Pada akhirnya, kita semua berharap, semoga Allah anugrahkan kita anak-anak yang sholih-sholihah, cerdas, ahlul Qur'an, 'alim, dan bermanfaat untuk umat. Aamiin.
Salam,
Luqmanul Hakeem
Bogor, 19 Syawal 1443H